SHARE

Suatu kali, aku menerima sebuah pesan yang mengagetkan yang mengatakan bahwa melihat media sosial bisa menyebabkan kematian. Berikut adalah isi pesannya:
A: “Berita terbaru! Lihat media sosial bisa menyebabkan KEMATIAN!”
B: “Kok bisa?”
A: “Iya, keasyikan lihat media sosial, sampai ketabrak truk!”
Ya, ternyata pesan itu hanya sekadar candaan semata. Namun pesan itu membuatku jadi berpikir, mungkinkah kejadian seperti yang ada dalam pesan tersebut terjadi? Aku teringat salah satu survei yang dilakukan oleh Informate Mobile Intelligence yang mengungkapkan fakta bahwa orang-orang Amerika membuka media sosial yang mereka miliki melalui smartphone mereka sebanyak 17 kali sehari. Wow, sangat banyak, ya.
Dahulu, aku adalah orang yang mempunyai banyak sekali media sosial.  Suatu hari, ketika aku sedang asyik upload foto, salah seorang temanku berkata, “Ribet banget sih hidupmu, dikit-dikit harus upload foto.” Sepenggal kalimat tersebut menamparku dan membuatku merenungkan mengapa aku menggunakan semua media sosial tersebut.
Hasil perenungan dari pengalamanku membuatku menemukan beberapa motivasi yang mungkin menjadi alasan orang-orang menggunakan media sosial.
1. “Aku lagi sedih/kesepian/kesel… Komen dong!”
Mungkin ada yang merasa sepi, sedih, atau marah, sehingga mereka menuliskan status yang menarik perhatian untuk mengundang komentar orang-orang (atau pesan untuk seseorang malah dijadikan status di media sosial, contohnya: Aku tuh sayang banget sama kamu, ngerti gak sih?).
2. “Aku lagi di sini nih. Keren kan?!”
Mungkin ada juga yang posting di media sosial untuk memamerkan apa yang dimiliki atau dilakukannya, seperti sedang ada di tempat yang keren, punya barang baru, atau baru menjalin sebuah hubungan yang baru.
3. “Aku ganteng/cantik kan?!”
Mungkin juga ada yang posting foto-foto selfie-nya untuk pembuktian diri. Contohnya, meskipun aku memang sudah ganteng dari lahir (percaya saja ya, hehe), kadang aku merasa perlu ada orang-orang yang mengkonfirmasi hal itu. Keinginan untuk ada orang yang memuji diriku membuatku berfoto selfie dan meng-edit hasil fotonya agar terlihat semakin ganteng sebelum di-upload.
4. “Janganlah kamu bla bla bla…”
Selain itu, ada juga yang menyebarkan kata-kata mutiara atau kata-kata yang sedang pas dengan isi hati, atau bahkan firman Tuhan. Kadang bisa juga buat curhat, supaya orang tahu apa yang kita rasakan melalui tulisan yang kita retweet, repath, atau share.
5. “Update ajah…”
Yang terakhir, mungkin ada juga yang posting di media sosial untuk sekadar terlihat eksis.
Memang banyak juga orang-orang yang menggunakan media sosial untuk hal-hal yang positif, namun dalam kasusku, kebanyakan aku menggunakan media sosial agar hidupku tidak sepi, untuk pamer, atau sekadar lucu-lucuan saja. Kadang memang aku juga menyebarkan firman Tuhan dengan membagikan ayat-ayat atau apa yang aku renungkan. Namun jumlahnya tidak sebanyak curhatanku.
Setelah aku menyadari bahwa begitu banyak waktu yang telah terbuang sia-sia untuk media sosial, aku memutuskan untuk memotivasi diriku untuk mengurangi media sosial yang aku gunakan. Akhirnya, aku berhenti menggunakan banyak media sosialku, dan hanya menggunakan yang aku butuhkan saja. Hasilnya, setidaknya ada 4 manfaat yang aku rasakan.
1. Lebih banyak waktu untuk memperhatikan orang sekitar
Menurut survei tadi, pengguna smartphone dalam sehari dapat menatap layar ponselnya untuk menggunakan media sosial hingga 4,7 jam. Ketika aku mengurangi media sosial yang aku gunakan, aku bisa menggunakan waktu-waktu ini untuk ngobrol dengan keluarga, teman, sahabat, atau pacar.
Ada yang berkata bahwa media sosial itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Aku merasa ucapan itu ada benarnya. Ucapan itu membuatku berpikir, jangan sampai keluargaku atau orang-orang terdekatku merasa tersisihkan dan kurang aku perhatikan karena aku sibuk dengan media sosial.
2. Lebih berani menghadapi dunia nyata
Awalnya, aku merasa lebih mudah berkata-kata di media sosial daripada berbicara langsung di dunia nyata. Namun setelah mengurangi menggunakan media sosial, aku menjadi lebih berani untuk mengungkapkan apa yang aku pikirkan atau rasakan secara langsung.
3. Lebih banyak membaca firman Tuhan & renungan, bukan sekadar judulnya
Aku sering share artikel-artikel rohani di media sosial, namun sering kali aku hanya membaca judulnya saja, dan share artikel itu karena judulnya yang bagus, dan berharap banyak orang yang bisa nge-like (khususnya si ‘dia’). Namun, ketika aku mengurangi menggunakan media sosial, aku dapat menggunakan waktu browsing media sosial untuk membaca artikel-artikel rohani tersebut secara lengkap.
4. Melakukan hal-hal yang lebih produktif
Banyak waktu yang tadinya aku gunakan untuk menggunakan media sosial, kini dapat aku gunakan untuk hal-hal lain yang lebih produktif. Contohnya, waktu-waktu yang dulunya untuk mengetik status di media sosial sekarang dapat aku gunakan untuk mengetik artikel untuk WarungSaTeKaMu.
* * *
Maksudku menulis artikel ini bukanlah agar teman-teman menghapus akun-akun media sosial yang teman-teman miliki seperti yang aku lakukan. Yang terpenting adalah kita dapat menggunakan media sosial kita dengan bijak dan jangan bergantung kepadanya. Sebuah ayat mengingatkanku tentang hal ini:
“Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” (Kolose 4:5-6).

Sudahkah kamu menggunakan media sosialmu dengan bijak? Yuk kita jadikan media sosial yang kita gunakan menjadi bermanfaat untuk kebaikan diri kita, kebaikan orang-orang di sekitar kita, dan yang terutama, memuliakan Tuhan kita.

Sumber: http://www.warungsatekamu.org/2016/06/aku-menutup-akun-media-sosialku-dan-inilah-yang-terjadi/

*sudah diedit untuk disesuaikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here