Home Renungan 3 Alasan Mengapa Aku Perlu Berdoa

3 Alasan Mengapa Aku Perlu Berdoa

(Amy J.)

362
0
SHARE

Aku berusia 11 tahun ketika keluargaku pergi berlibur ke Beijing. Itu adalah perjalanan pertamaku ke Tiongkok. Suatu pagi, saudara lelakiku sakit dan harus beristirahat di hotel. Karena ibu harus merawatnya, dia memintaku untuk membelikan sarapan di sebuah kedai pangsit yang terletak persis di depan hotel. Ibu meyakinkanku bahwa dia akan memperhatikanku dari balik jendela kamar hotel.
Seandainya aku ada di rumah, tugas itu adalah sebuah tugas yang sederhana. Tapi, rasa asing pada Tiongkok dan kurangnya pengalaman membuat hal ini menjadi sebuah tugas yang sangat menantang dan masih aku ingat dengan jelas sampai hari ini. Begitu banyak orang yang keluar dan masuk kedai pangsit itu. Beberapa dari mereka sedang menyantap sarapan, beberapa yang lain sedang menunggu makanan untuk dibawa pulang, dan sisanya sedang meneriakkan pesanan di atas kepalaku. Antrean yang kacau membuatku semakin bingung hingga aku tidak tahu apa yang harus kulakukan atau kukatakan.
Aku ketakutan dan hampir menangis, namun tiba-tiba aku teringat ucapan ibuku tadi. Aku melangkah keluar dari toko dan melihat ke arah jendela kamar hotel tempatku tinggal. Ibuku menepati janjinya, dia melihatku dari jendela kamar di lantai lima, dan mengacungkan jempolnya kepadaku. Aku langsung merasa terhibur. Sekalipun dia tidak berada tepat di sampingku, tetapi mengetahui bahwa dia ada di dekatku memberikanku keyakinan dan keberanian untuk menyelesaikan tugas yang diberikannya.
Dalam pergumulanku tentang pentingnya berdoa, pengalaman ini mengajarkanku 3 alasan mengapa aku perlu berdoa.

1. Karena berdoa mengingatkanku bahwa Tuhan selalu besertaku.
Memang terdengar klise, namun itu benar. Seringkali, aku menjadi seperti anak kecil lagi—di tengah ketidakpastian, ketika aku ditekan oleh keadaan, aku lupa bahwa Tuhan memperhatikanku.

Tuhan selalu menyertai kita, meskipun kita tak dapat melihat-Nya. Ketika masalah datang, yang harus kita lakukan hanyalah datang kepada-Nya di dalam doa. Dia mungkin tidak selalu langsung menjawab sesuai dengan cara yang kita inginkan, seperti memberikan kita nilai ujian yang baik atau menyembuhkan orang yang kita kasihi yang sedang sakit, tapi tidak ada satu pun yang terjadi di luar kehendak-Nya.
Yesus berjanji bahwa Dia tidak akan membiarkan kita atau meninggalkan kita (Ibrani 13:5). Janji itulah yang membuatku setia berdoa dari hari ke hari—kadang dari tahun ke tahun, mendoakan sebuah pokok doa yang sama. Aku tahu bahwa Dia ada, Dia mendengar doaku, dan Dia peduli.
2. Karena aku sedang melakukan pekerjaan-Nya.
Dihadapkan pada lebih dari 20 jenis pangsit dan bakpau membuatku menjadi sangat bingung. Apalagi, semua menu itu ditulis dalam aksara Mandarin yang setengah di antaranya tak kukenal. Waktu itu, aku merasa bingung hingga aku lupa apa tugasku. Ibuku telah memberi instruksi yang sangat sederhana—beli enam bakpau daging—namun di tengah situasi yang asing dan kacau, suara ibuku di dalam kepalaku menjadi tenggelam dan aku menjadi lupa apa yang harus aku lakukan.

Jadi dunia memberitahu kita bagaimana seharusnya penampilan kita, kelakuan kita, dan bagaimana menghidupi hidup ini. Dunia tidak mempengaruhi kita, dunia hanya memberitahu kita. Apakah kita terpengaruh atau tidak, itu kembali ke kita.
Tuhan telah menciptakan kita untuk sebuah tujuan yang spesifik. Dia mempercayakan kita tidak hanya untuk memelihara dan berkuasa atas dunia ciptaan-Nya, tetapi juga untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid-Nya. Inilah peran yang diberikan-Nya kepada Adam, murid-murid Yesus, dan kita semua. Yesus sendiri berkata bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Kitab Efesus mengajarkanku bahwa aku adalah buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya (Efesus 2:10). Jadi alasan aku berdoa adalah untuk melakukan pekerjaan-Nya dengan tepat.

3. Karena aku adalah warga kerajaan surga.
Melihat kembali pengalamanku itu, aku menyadari bahwa tantangan terbesar yang kuhadapi adalah bagaimana keluar dari zona nyaman. Saat itu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan, bagaimana cara memesan makanan itu, atau kepada siapa aku harus memesan. Kalau saja itu adalah kedai favoritku di belakang rumah, penjualnya tentu sudah tahu apa yang ingin kupesan—dua bakpau daging, dua bakpau ayam, dan dua bakpau kacang merah. Urusan memesan bakpau akan menjadi urusan yang mudah di lingkungan tempat tinggalku.
Dan meskipun aku dapat membaca menu dan membuat suaraku terdengar di kedai pangsit di Bejing, gaya bicara dan berpakaianku juga akan terlihat aneh. Aku benar-benar menjadi orang asing yang tersesat di tengah kerumunan penduduk lokal di sana.

Pernahkah kamu merasa kalau menjadi orang Kristen itu berarti menjadi sangat berbeda dari yang lain? Itu tidak terelakkan. Kita tidak bisa berbaur dengan dunia ini, karena dunia ini bukanlah rumah kita. Bumi ini bukanlah tujuan akhir kita yang suatu saat nanti kita akan meninggalkannya. Jadi, cara terbaik untuk menjalani hidup ini adalah dengan melihat kepada Yesus, Tuhan dari hidup kita. Aku berdoa karena aku membutuhkan pimpinan-Nya.

Ketika aku tiba di surga kelak, aku akan menghabiskan waktu berjam-jam berjalan di taman dan mengobrol dengan Tuhanku. Tapi saat ini, ketika aku masih ada di bumi untuk melakukan pekerjaan-Nya, yang bisa kulakukan untuk berkomunikasi dengan-Nya hanyalah dengan berdoa.

“Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” (Matius 6:10).

(Sumber: http://www.warungsatekamu.org/2017/01/3-alasan-mengapa-aku-perlu-berdoa/)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here