SHARE

Masa menjadi mahasiswa adalah masa yang memiliki keunikan problematikanya tersendiri. Dalam upaya membantu mahasiswa menghadapi problematika tersebut, Pusat konseling dan Pengembangan Pribadi Universitas Kristen Petra (PKPP UK Petra) menyelenggarakan Seminar Problematika Mahasiswa dengan tajuk “Stand Out! Spreading Good Vibes in Swag Generation”. Seminar ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 24 Maret 2017 di Auditorium UK Petra.

Hadir sebagai pembicara di seminar ini adalah Ang Wie Hay, M.Sc., M.Div., seorang hamba Tuhan yang juga pakar di bidang Teknologi Informatika (IT). Ang memperkenalkan diri dengan kesaksiannya sebagai orang yang selalu mengandalkan Tuhan sejak masa mudanya. Ia menggambarkan hanya dari jawaban doa saja ia menyelesaikan S1 di Osaka, Jepang dan kemudian mengambil dua gelar master di bidang IT dan Teologia.

Membuka perenungan, Ang mengajak peserta untuk membaca  Matius 22:34-40. Dari pembacaan ini, Ang menggarisbawahi ajaran Tuhan Yesus terhadap kaum Farisi. Ang mengangkat bahwa kaum Farisi lebih fokus pada penampilan dan status mereka sebagai ahli Taurat ketika mereka menanyakan kepada Tuhan Yesus tentang manakah hukum yang terutama dalam Taurat. Yesus menegur mereka dengan jawaban bahwa hukum yang terutama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”, dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Dua hukum ini adalah relevan dan bisa menjadi panduan dalam menyikapi problematika yang dialami mahasiswa.

Untuk bisa lebih spesifik membahas tentang problematika mahasiswa, Ang memberikan identifikasi lebih lanjut atas mahasiswa. Generasi yang menjadi mahasiswa (khususnya mahasiswa program sarjana S1) saat ini dideskripsikan sebagai kaum muda yang tergolong dalam Swag Generation. Swag adalah kata urban slang yang kerap digunakan musisi rap barat masa kini untuk menggambarkan sikap yang percaya diri dan keren. Generasi Swag, terlahir dengan gadget telekomunikasi canggih sudah tersedia di tangannya. Hal ini mendukung luasnya pengetahuan karena mudahnya akses terhadap sumber informasi (google). Akses internet yang mudah ini selain membawa kebaikan, tentunya juga memiliki sisi buruk sebagai problematikanya. Generasi yang hidup di dunia maya ini cenderung terlalu aktif berbagi di media sosial dan dari media sosial ini juga mereka lebih mudah terpapar pada paham hedonisme, dimana kenikmatan dunia dilihat sebagai hal yang baik atau positif. Apabila para pemuda mengikuti arus ini, maka kondisi ini akan membawa problem dimana tumbuh pemikiran: “God + (sesuatu yang dipersepsikan bagus)= good”, maksudnya Tuhan belum baik kalau belum ada sesuatu nilai plusnya. Pemikiran ini bisa membawa kita menjauh dari Hukum Terutama yang dimaksudkan Allah seperti disebutkan di atas.

Dari identifikasi problematika yang dialami mahasiswa Swag Generation ini, Ang memberikan panduan dengan konsep “Reputasi vs Karakter”. Reputasi adalah bagaimana persepsi orang lain terhadap diri sendiri. Dari pembacaan ayat sebelumnya, kaum Farisi digambarkan sangat peduli pada reputasi mereka sebagai ahli Taurat, sedangkan Tuhan Yesus mengingatkan Hukum Terutama yaitu mencintai Tuhan dan sesama. Untuk menjadi Swag Generation yang bisa mempengaruhi dan menjadi berkat, para pemuda sebaiknya lebih memfokuskan diri pada membangun karakter. Apabila reputasi hanya persepsi orang, karakter adalah bagaimana keadaan atau kualitas yang dimiliki diri sendiri. Menurut Ang, membangun karakter bisa dimulai dengan melatih dan mengembangkan diri agar memiliki suatu spesialisasi yang bisa dipakai untuk membantu masyarakat. Dengan melayani, maka kita akan tetap fokus membangun masyarakat dan diri sendiri dan  terhindar dari  mencari reputasi. Tidak perlu menjadi lebih baik dari orang lain, akan tetapi lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan. Menurut Ang, cara untuk mempersiapkan diri dengan karakter yang kuat adalah dengan membaca kitab Amsal, dimana terdapat banyak pengajaran tentang hikmat. Menurut Ang, orang dengan karakter yang baik tidak mengukur diri dari hasil akhir. Ia mengatakan, “Semakin mengandalkan Tuhan, semakin meningkatkan karakter”. Searah dengan tema, Dra. Lanny Herawati, Kepala Pusat Konseling dan Pengembangan Pribadi menyampaikan pesan, ia mengatakan “Generasi saat ini adalah generasi yang hidupnya sangat diwarnai dengan kecanggihan teknologi, namun belajarlah mengendalikan teknologi bukan dikendalikan teknologi. Bangun Personal Branding berdasarkan Kebenaran seturut rancangan Allah bukan sekedar Ketenaran”. (noel/dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here