SHARE

Saat ini banyak universitas menerapkan service-learning (S-L) dalam kurikulumnya. Hal ini dikarenakan S-L bisa memenuhi tiga sasaran misi universitas  yaitu: pendidikan, penelitian dan pengabdian. Selain itu, S-L adalah juga merupakan suatu metode strategi pembelajaran (pedagogi) yang menitikberatkan pada pembelajaran yang progresif dan inovatif untuk membantu murid mempersiapkan masa depan melalui membangun keterampilan akademik yang lebih baik, memupuk tanggungjawab kewarganegaraan, dan mengembangkan keahlian kepemimpinan di sekolah, organisasi, masyarakat, dan lebih luas lagi.

Untuk mendukung pengembangan pemakaian S-L di wilayah Asia Pasifik, diadakanlah Asia Pacific Regional Conference on Service Learning 2017 (APRCSL 2017). APRCSL kali ini adalah yang keenam kali diadakan, dan Universitas Kristen Petra (UK Petra) menjadi tuan rumah dari konferensi yang diselenggarakan pada tanggal 28 Mei 2017 sampai dengan 2 Juni 2017 ini.

Dalam konferensi dengan tema ini “Educating the Heart: Nurturing a Fruitful Life through Service-Learning”, UK Petra berupaya menyediakan sebuah wadah untuk menjajaki gagasan-gagasan baru tentang S-L.Tema konferensi yang didukung oleh United Board forChristian Higher Education in Asia (UB) dan International Association for Research on Service-Learning & Community Engagement memiliki makna bahwa hidup yang berbuah, yaitu menjalani hidup kita dengan penuh makna untuk mencintai dan melayani orang lain, hanya mungkin dicapai dengan mendidik hati kita.

Dalam konferensi yang dihadiri peserta dari pengajar di perguruan tinggi dan sekolah, mahasiswa, praktisi dan pakar dalam S-L, berbagai pendapat dan gagasan yang memiliki perspektif global dan lokal tentang penerapan S-L dalam beragam konteks sosial dan budaya diketengahkan. Konferensi ini memberi kesempatan bagi peserta untuk bertukar gagasan, mendapatkan pengalaman berharga, dan memperluas pengetahuan akademis dan jaringan mereka.   

Sekitar 230 orang peserta dari 10 negara tiba di Surabaya pada tanggal 28 Mei 2017. Rangkaian kegiatan yang diikuti oleh para peserta diawali dengan Pra Konferensi yang dilakukan pada tanggal 29-30 Mei 2017. Pada hari pertama Pra Konferensi ada dua acara yang dilaksanakan serentak, yaitu: bergabung dengan proyek S-L bersama Habitat for Humanity dan Pondok Kasih;  dan Workshop Pra Konferensi untuk Mahasiswa. Seusai kedua acara ini, diadakan pertemuan pleno Service-Learning Asia Network (SLAN) yang dihadiri semua peserta. DI hari kedua Pra Konferensi, agenda yang diselenggarakan adalah Workshop untuk Tenaga Pengajar dengan tajuk “Designing a transformative S-L Courses” yang diasuh oleh Ding-Jo Currie, Ph.D., dan Dr. Carol Ma. Bersamaan dengan acara tersebut, dilaksanakan sesi kedua Workshop untuk Mahasiswa lanjutan.

Sebagai pemateri dalam workshop di rangkaian acara Pra Konferensi APRCSL 2017 adalah Judy Yeh, Ph.D. Ia mengasuh dua sesi bertajuk “Empowering Asian Global Leaders to Excellence (EAGLE)”. EAGLE menurutnya adalah ditujukan bagi mereka yang ingin mengambil bagian dalam kepemimpinan S-L di kemudian hari. Praktisi pendidikan yang sudah 22 tahun berkecimpung dengan S-L ini menggugah motivasi berkarya, ia mengatakan “S-L bukanlah sekedar kursus pendidikan. S-L adalah suatu way of life yang bertujuan untuk memperbaiki way of life para murid”.  Di sesi pertama workshop yang dihadiri 15 orang peserta ini, Mrs. Yeh memperkenalkan Profil Kepribadian DISC pada para peserta. Konsep DISC mengelompokkan kepribadian menjadi 4 tipe, yaitu: Dominance, Influence, Steadiness, dan Conscientiousness (DISC). Dengan memahami konsep DISC, diharapkan para peserta dapat lebih mengenali diri sendiri dan juga dapat memahami kepribadian dari orang-orang di sekitarnya sehingga dapat berinteraksi dan mengelola konflik dalam kelompok dengan lebih baik.  Di sesi kedua EAGLE, para peserta ditugaskan untuk membuat Dreamboard dan mempresentasikannya. Dreamboard adalah salah satu metode brainstorming yang bertujuan menggali cita-cita dan memberikan motivasi. Dalam metode ini, peserta merancang suatu tampilan cita-citanya dalam suatu papan, membagikan papan tersebut, dan kemudian melakukan suatu refleksi pribadi. Jaisha Priyam, salah seorang peserta workshop dari Lady Doak College, India membagikan kesannya mengikuti EAGLE, ia mengatakan “Workshop ini berguna. Konsep DISC bisa diterapkan ketika kita bekerja dalam satu tim dan bisa dipakai untuk membantu menyelesaikan suatu konflik dalam tim”.

Kegiatan konferensi APRCSL 2017 dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2017 sampai dengan tanggal 1 Juni 2017. Konferensi di hari pertama ini menghadirkan pembicara Dr. Florence McCarthy, Dr. Hana A.V. Ananda, D.Min, Tommy Pacatang, Dr. Carol M, Nanang Haryanto, Dr. Juliana Anggono, Dr. Wai Ching Angela Wong dan Gracia Fenta. Di hari kedua, hadir pembicara konferensi ini adalah Jekuk Chang, Ph.D., Prof. Edward Chen, Prof. Junko Hibiya, Ph.D., Prof. Leonard Cheng, Ph.D, Prof. Tsui Kai Chong, Ph.D dan Prof. Rolly Intan, Dr.Eng. Seusai sesi pembicara, para peserta konferensi menyampaikan karya tulis ilmiah mereka yang dibagi menjadi lima subtema. Di sesi Presidential Talk yang merupakan sesi pembicara utama terakhir rangkaian konferensi ini, hadir peserta konferensi dan juga para pimpinan universitas di kawasan Asia Pasifik yang belum tergabung dalam SLAN . Dalam sesi ini, Rektor UK Petra, Prof. Rolly Intan, Dr.Eng. menyampaikan sambutannya yang mengemukakan harapan agar agenda APRCSL ini bisa terus diadakan dan supaya para pimpinan universitas terus memberikan dukungan pada penerapan S-L. Rolly mengatakan, “Tanpa dukungan dari para pemimpin universitas maka S-L hanya akan menjadi teori saja”. (noel/dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here