SHARE

Surabaya sebagai ibukota Provinsi Jawa Timur, juga merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Dalam atmosfer metropolis ini, nilai-nilai luhur tradisional yang dimiliki warga Surabaya dengan cepat mudah tergusur dalam cepatnya irama hidup dan perkembangan teknologi yang pesat. Pada tanggal 31 Mei 2017, kita merayakan Hari Jadi ke 724 Kota Surabaya, akan tetapi sedikit dari kita yang mengetahui mengapa usia kota ini jauh melampaui usia Republik Indonesia. Hari kemenangan pasukan Majapahit terhadap penyerbu dari Mongol sekitar 8 abad silam, ditetapkan sebagai hari jadi kota Surabaya. Warisan atau pusaka tradisional seperti ini perlu dilestarikan agar bisa terus berkelanjutan menjadi pusaka warisan bagi generasi selanjutnya.

Surabaya Memory adalah inisiatif yang didedikasikan untuk perekaman dan pelestarian pusaka (heritage) Kota Surabaya. Kegiatan ini pertama kali diluncurkan pada hari jadi Kota Surabaya yang ke-708 pada tahun 2001. Pada tahun 2017, Surabaya Memory mengangkat tema “Kampungku Suroboyo” dengan latar belakang kampung-kampung di Surabaya yang memiliki ciri khas masing-masing dan membentuk gaya hidup yang membentuk Surabaya. Tema ini juga sesuai dengan keinginan pemerintah kota Surabaya yang hendak mengembangkan potensi kampung Surabaya di sisi ekonomi, budaya, wisata dan lain sebagainya.

Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di Grand City Mall Surabaya pada tanggal 10 sampai dengan 14 Mei 2017 ini terdiri dari berbagai jenis kegiatan dan  lomba diantaranya lomba Karya Tulis Pengelola Taman Baca Masyarakat bertema  “Karyaku Mewujudkan Surabaya Kota Literasi”, Lomba Presentasi bagi Karang Taruna dengan tema “Mbangun Kampung”, Lomba Foto Kampung dan Lomba Mendongeng Cerita Rakyat Jawa Timur. Lomba-lomba ini sesuai dengan tema dan juga merupakan tindak lanjut dari Surabaya Memory tahun sebelumnya dan sekaligus juga program pemerintah kota Surabaya yang bertujuan meningkatkan budaya literasi di kampung-kampung Surabaya. Beberapa babak penyisihan lomba-lomba ini telah dilaksanakan di Kampus UK Petra sebelum dilaksanakannya final lomba di rangkaian acara Surabaya Memory 2017.

Kegiatan lainnya adalah pameran yang menampilkan foto-foto Surabaya jaman dahulu, foto-foto Kebun Binatang Surabaya dari masa ke masa karya masyarakat umum dan wartawan, produk kreatif dan potensi kampung-kampung di Surabaya, produk literasi kampung yang diambil dari 5 terbaik Lomba Akseliterasi tahun sebelumnya, karya para finalis lomba, karya seni dan karya ilmiah dosen dan mahasiswa UK Petra dengan tema Kampung Surabaya dan pameran buku-buku kuno Surabaya dari kolektor dan Badan Perpustakaan dan Arsip Jawa Timur. Pameran ini menempati selasar di depan panggung Surabaya Memory sehingga mengundang minat para pengunjung pertokoan untuk berkunjung melihat-lihat.

Selain mengangkat cerita perkampungan, tema Kebun Binatang Surabaya (KBS) juga diangkat dalam Surabaya Memory 2017. KBS adalah salah satu ikon kebanggaan masyarakat Surabaya dan dalam rangkaian kegiatan ini, digelar bedah buku “Bonbin dalam Kisah dan Tjerita” karya Henri Nurcahyo dan juga karya foto tentang kebun binatang karya mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual UK Petra.

Salah seorang pengunjung, Eva-seorang mahasiswi salah satu universitas negeri di Surabaya mengatakan, “Menarik. Kegiatan seperti ini memberikan inspirasi”. Billy Setiadi, S.I.P., M.A., selaku ketua panitia Surabaya Memory mengungkapkan harapannya, ia mengatakan: “Semoga melalui Surabaya Memory, UK Petra bisa memberi lebih banyak sumbangsih pada kota Surabaya, khususnya dalam hal pelestarian pusaka budaya Surabaya”. (noel/dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here