SHARE

Menjadi yang Pertama dan Berbuahlah

Berangkat dari kepedulian terhadap Universitas Kristen Petra (UK Petra), Timoticin Kwanda, B.Sc., M.R.P., Ph.D ingin berkontribusi lebih bagi sivitas akademika UK Petra, khususnya untuk Kemuliaan Nama Tuhan dengan mencalonkan diri sebagai Rektor UK Petra periode 2017-2021. Melayani sejak tahun 1988 sebagai dosen Program Studi Arsitektur di UK Petra, Timoticin ingin memberikan warna tersendiri bagi UK Petra guna meningkatkan kualitas UK Petra. Dari nilai UK Petra, LIGHT (Love, Integrity, Growth, Humility, Truth), lulusan Cornell University, New York, Amerika Serikat (S1 dan S2) dan National University of Singapore (Ph.D.) ini ingin membangun UK Petra bukan hanya sebagai terang (LIGHT) namun UK Petra harapannya akan berbuah.

Apa saja visi dan misi strategis yang hendak dilakukan?

Visi dan misi UK Petra adalah menjadi universitas yang memajukan dan memberdayakan masyarakat sebagai pengejawantahan nilai-­nilai Kristiani, melalui kepedulian, wawasan global, kualitas dan unggulan, berbasis teknologi informasi, dan efektifitas serta efisiensi.

Visi dan misi universitas ini menjadi landasan bagi visi dan misi strategis yang akan diajukan.  Timoticin mengangkat visi strategis yakni Menjadi yang Pertama dan Berbuahlah (Be the First and Be Fruitful). “Untuk menjadi pertama (terbaik), maka tidak ada jalan lain selain dimulai dengan berbuah atau menghasilkan sesuatu, produktif, menghasilkan SDM yang terbaik, penelitian, publikasi, dan lulusan yang terbaik,” urai pria kelahiran Samarinda, 3 April 1958 ini. Visi strategis yang hendak dilakukan ini merupakan suatu gagasan untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan, yakni:

  1. Mempertahankan UK Petra sebagai peringkat 1 Perguruan Tinggi Swasta dan meningkatkan peringkat Nasional di Indonesia.
  2. Sivitas akademika UK Petra diharapkan dapat menjadi yang PERTAMA atau TERDEPAN (tertinggi, terhebat, unggul) dalam empat komponen kualitas pendidikan tinggi yaitu peningkatan SDM (S3 dan jabatan akademik), penelitian dan publikasi, manajemen (terutama efisiensi fakultas dan program studi dengan TI atau smart faculty/department), dan kualitas kegiatan mahasiswa terutama kegiatan yang didanai oleh Kemenristekdikti.
  3. Menjadi yang pertama, berarti dipanggil untuk menjadi contoh yang baik atau TERANG bagi orang lain.

Untuk mencapai visi strategis yang diinginkan, maka misi strategis yang diajukan oleh Timoticin yakni Menetapkan Standar yang Tinggi dan Setia (To Set the Bar High and Be Faitful). “Set the bar high“, artinya, sebagai upaya untuk melakukan sesuatu yang lebih baik maka harus menaikan standar atau kualitas yang ada. Hal ini dijadikan sebagai tantangan bagi seluruh sivitas akademika UK Petra untuk meningkatkan standar agar menghasilkan kinerja yang lebih baik pada empat komponen kegiatan. Sedangkan Setia, artinya sivitas akademika UK Petra diharapkan memiliki karakter yang setia, loyal, berkomitmen, berpegang teguh pada janji, rasa memiliki dan memiliki tanggung jawab dalam menjalankan tugas dan pekerjaan. Hal ini dilakukan agar setiap pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik (standar tinggi) dan dapat memberikan dampak atau manfaat bagi orang lain, lingkungan, terutama untuk Tuhan.

Program apa yang hendak dilakukan?

Salah satu cara untuk mewujudkan visi dan misi tersebut adalah dengan meningkatkan komponen akreditasi, universitas dan program studi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajukan tingkat Akreditasi Internasional, antara lain seperti ASEAN University Network (AUN) Accreditation, Korean Architectural Accrediting Board (KAAB) untuk akreditasi internasional Program Studi Arsitektur, dan Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) untuk Program Studi Teknik Sipil dan Program Studi Teknik Industri.

Berkaitan dengan pengelolaan strategi kampus, Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra Periode 2014-2017 ini menggunakan konsep designer mindsets. Ciri konsep ini adalah memiliki  karakter  kepemimpinan  yang  selalu  ingin bekerjasama dan setiap orang sebagai subyek yang dapat memberikan masukan (collaborative), merangkul ketidakpastian (embracing the unknown) sehingga ada kemungkinan gagal dan terus mencoba lagi untuk berhasil, dan berfokus pada sikap mendengar (listening). “Konsep pengelolaan ini saya pilih dalam pengelolaan kampus karena sesuai dengan tipe organisasi di kampus yang memiliki berberapa dimensi seperti birokratis, struktural (hubungan diantara pimpinan, fakultas, program studi, dan unit administras/pendukung), namun juga kolegial (senat, dosen di program studi),” tambah alumni National University of Singapore ini (fsc/aj).

Buatlah sesuatu yang kompleks menjadi lebih sederhana.

-Timoticin Kwanda, B.Sc., MRP., Ph.D-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here