SHARE

Saat ini, seluruh dunia tengah dipengaruhi perkembangan teknologi di bidang telekomunikasi dan teknologi informasi yang pesat. Perubahan juga bisa diamati pada migrasi saluran informasi dari yang sebelumnya koran, radio dan televisi, saat ini peran tersebut diambilalih oleh gawai cerdas yang mampu mengakses media sosial dan juga situs media daring dengan cepat dan praktis. Perubahan ini tak dielakkan juga membawa ekses negatif, yaitu kecepatan tersalurkannya informasi menyebabkan berkurangnya efektivitas filter informasi, yang pada gilirannya menyebabkan maraknya penyebaran berita palsu (fake news) atau tidak benar (hoax). Dalam atmosfer dunia komunikasi dimana arus informasi membanjir, bagaimana peran atau kontribusi dari mahasiswa sebagai salah satu pegiat komunikasi terkait dengan permasalahan ini? Bagaimana instansi pendidikan tinggi mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi pelaku dunia komunikasi yang baik?

Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Petra (UK Petra) sebagai instansi pendidikan berupaya memutakhirkan pemahaman dan keahlian untuk para mahasiswa.  Pada tanggal 18 – 19 Mei 2017, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Petra (Himakomtra) menyelenggarakan Communication Day. Dalam rangkaian Communication Day ini, ada 2 kegiatan utama, yaitu: Talkshow and Proactive Class dan Perayaan Hari Ulang Tahun Program Studi Ilmu Komunikasi UK Petra. Dalam acara pembuka rangkaian kegiatan Communication Day ini, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Dr. Ido Prijana Hadi, M.Si menyampaikan sambutannya. Ia memaparkan pandangan bahwa dunia sedang memasuki era komunikasi dimana secara khusus di bidang pendidikan bagaimana kurikulum pendidikan sesuai dengan kebutuhan industri.

Tema yang diangkat dalam talkshow and proactive class adalah “Global Communication Nowadays” hadir sebagai narasumber dalam talkshow ini adalah: Errol Jonathan sebagai CEO Suara Surabaya, Muhammad Walid sebagai Kepala Biro Surabaya CNN Indonesia, Christovita Wiloto, S.E., MBA, DBA (cand), CEO & Managing Partner Power PR dan Agung Wicaksono, S.Sos., Supervisor Program Director NET. TV. Talkshow dimulai dengan pembahasan tentang validitas kebenaran di situasi dunia komunikasi yang genting informasi saat ini dimana hoax dan fake news yang menjamur belakangan ini dilatarbelakangi oleh akses gawai yang relatif mudah, murah dan sudah merata di Indonesia. Banyaknya penggunaan gawai ini mendukung transfer informasi secara cepat melalui media sosial. Di sisi lain, transfer yang cepat ini lemah dalam hal validitas kebenarannya tetapi Media mainstream (media massa yang sudah mapan) tetap memainkan peran utama dalam mengklarifikasi kebenaran suatu berita.

Dari sudut pandang pelaku komunikasi public relation (PR), Christovita menganjurkan untuk selalu menjaga integritas. Menurutnya banyak pelaku PR membangun kepercayaan melalui cara yang  tidak terpercaya (untrustworthy). Cara yang tidak terpercaya tetapi menarik perhatian akan bisa membawa sukses dalam jangka pendek, tetapi di jangka panjang akan membawa kekecewaan. Ia mengatakan, “Dunia saat ini sangat transparan, hati-hati dengan komunikasi. Komunikasi adalah bagian dari pekerjaan Tuhan, so don’t play God”. Dari sudut kantor berita CNN, Walid mengangkat kenyataan bahwa ada orang-orang yang profesinya adalah membuat hoax atau fake news. Berseberangan dengan orang-orang itu, menurutnya, media mainstream tidak akan bisa bertahan apabila tidak menjaga validitas. Di CNN, validitas dijaga dengan proses yang dinamakan ‘Right and Clear’. Agung dari NET.TV menyuarakan hal yang sama. Errol senada dengan hal ini menambahkan bahwa validitas berita di jaringan Suara Surabaya (SS) dijaga melalui proses check & recheck yang berlapis. Salah satu teknik yang dipakai adalah menanyakan kalimat “Apa yang Anda lihat?”. Menekankan pentingnya kebenaran berita, Errol membagikan prinsip yang dipakai untuk menjaga standar kebenaran berita yang diterapkan di radio SS. Ia mengatakan, “Lebih baik radio SS jadi media yang terlambat tapi ter-tepat”.

Proactive class dilaksanakan seusai talkshow dimana mahasiswa peserta dibagi dalam 2 kelas sesuai dengan minat mereka. Mahasiswa yang berminat di Public Relation mengikuti kelas dengan nara sumber Christovita di Auditorium, sedangkan yang berminat Jurnalistik mengikuti kelas dengan narasumber Errol, Walid, dan Agung di Ruang Konferensi IV. ( noel/dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here