SHARE

Dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Surabaya yang ke-724, Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UK Petra) turut serta berkontribusi dalam memajukan dan memberi perubahan yang lebih baik dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang seni. Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra bekerja sama dengan House of Sampoerna (HoS) mengadakan pameran karya seni visual berupa lukisan, seni grafis, ilustrasi, instalasi, dan video yang diselenggarakan di Galeri HoS tanggal 5 Mei hingga 3 Juni 2017.

 

Mengangkat tema ‘KOTAKUKOTAKITA’, pameran ini dilatarbelakangi oleh rasa syukur dan kecintaan terhadap kota Surabaya yang diimplementasikan melalui karya seni dan budaya. Sebanyak 25 karya dipamerkan di Galeri HoS, yang merupakan karya dari 21 dosen, 3 mahasiswa, dan 1 alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra. Masing-masing karya tersebut memiliki nilai dan filosofi tersendiri yang merupakan sebuah bentuk kritikan, saran, hingga harapan untuk kota Surabaya demi kota yang lebih baik dan nyaman.

 

Dari 25 karya yang dipamerkan, terdapat beragam topik yang diangkat sesuai dengan situasi kota Surabaya saat ini. Topik tersebut antara lain seperti ragam permasalahan kota Surabaya, impresi dan apresiasi warga Surabaya, kondisi masyarakat Surabaya, hingga kondisi kota Surabaya yang sering terlewat dari perhatian sehari-hari. Uniknya, pameran ini dikemas apik yang menggabungkan antara seni konvensional dan seni modern dalam bidang teknologi seperti virtual reality.

 

Salah satu karya yang dipamerkan adalah karya milik Rebecca Milka, salah satu dosen DKV UK Petra. Karya mixed media berjudul ‘Menjadi Surabaya’ ini ingin mengungkapkan wilayah di kota Surabaya yang luas dan memiliki keanekaragaman. Sebagai bentuk kritikan, karya ini mengacak map Surabaya menjadi satu kesatuan dan memberikan tanda dimana saja lokasi yang sudah padat, belum padat, dan hampir padat. Selain itu, map ini menggambarkan keadaan kota Surabaya yang sudah padat bangunan sehingga memberikan pesan bahwa jangan asal membangun, namun harus memperhatikan faktor lain seperti lingkungan dan masyarakat sekitar.

 

Selain itu, melalui mixed media ini, penonton dapat menempel stiker tentang harapan apa yang diinginkan pada lokasi tertentu di Surabaya. Misalnya, masyarakat ingin telepon di wilayah A, jaringan WiFi di wilayah B, dan lain-lain. Sehingga, karya ini menjadi salah satu sarana kritikan dan harapan agar kota Surabaya menjadi nyaman dan lebih baik bagi masyarakatnya.

 

“Dengan adanya pameran ini, harapannya kota Surabaya dapat lebih nyaman bagi masyarakatnya. Jika biasanya mengunjungi negara lain dengan berbagai kelebihannya, melalui pameran ini kami ingin menunjukkan bahwa kami cinta dengan kota Surabaya. Selain itu, kami menyadarkan masyarakat dunia bahwa Surabaya juga memiliki kelebihan dan mampu menjadi kota yang dicintai oleh warga Surabaya,” urai Rebecca Milka, Koordinator Pameran ‘KOTAKUKOTAKITA’ (fsc/dit).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here