SHARE

Bekerja sebagai Guru Bahasa Inggris di salah satu SMA swasta Surabaya tidak membuat lengah dengan apa yang ia miliki saat ini. Yokhebed menyelesaikan program S1 Sastra Inggris pada tahun 2005 lalu pada tahun 2015 mengikuti program S2 Sastra di UK Petra. Mengantongi IPK sebesar 3.42, Yokhebed mengakui bahwa keputusan untuk sekolah lagi di tengah-tengah kesibukan bekerja adalah keputusan nekat yang diambil sendiri tanpa paksaan dari siapa pun. “Tanggung jawab dari keputusan yang saya buat itulah yang menjadi salah satu motivasi terbesar saya untuk pantang menyerah”, urainya.
Keberhasilan Yokhebed ini ternyata juga dilalui bukan tanpa tantangan. Waktu dan kondisi badan adalah halangan terbesar. Sebagian besar waktu saya terkuras di tempat bekerja, sehingga pada saat kuliah saya tidak pernah dalam kondisi terbaik saya, tambah Yokhebed.

Dukungan dari keluarga membuat Yokhebed semangat melalui tantangan dan rintangan yang ada. Selain keluarga, teman-teman seangkatan juga menjadi pendukung yang setia. Terdapat tujuh mahasiswa pada satu angkatan dan sama-sama merasakan kesulitan dan masalah yang berbeda selama menjalani perkuliahan. “Hal ini membuat kami saling mendukung dan memberi semangat, terutama pada saat-saat mendekati deadline pengumpulan makalah dan penyelesaian tesis,” ucap Yokhebed.

Setelah lulus, Yokhebed pun akan tetap berkarya sebagai guru, tetapi tidak sekedar mengajar. Tesis Yokhebed adalah tentang penerapan gaya belajar. Yokhebed ingin terus mempelajari tentang gaya belajar dan penerapannya di dalam kelas. Harapan pun terurai dari Yokhebed. “Jangan pernah puas dengan nilai yang didapatkan, tetapi jangan juga fokus pada mengejar nilai yang tinggi. Pasang target sesuai kemampuan untuk kemudian memasang target yang lebih tinggi secara step by step,”tutup Yokhebed (fsc/padi).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here