SHARE

Sepakbola adalah olahraga yang terkenal dan digemari dimana-mana. Klub sepakbola selalu menjadi idola dan kesayangan warga kota yang bersangkutan salah satunya adalah Persebaya Surabaya yang didukung oleh suporternya yang dikenal dengan nama “Bonek”. Karena besarnya jumlah Bonek dan begitu mendalamnya rasa bangga di kalangan masyarakat Surabaya, kehadiran Bonek memberi warna tersendiri dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Surabaya. Warna seperti apa yang ada selama ini? Perubahan apa yang sedang mereka lakukan? Hal inilah yang menggelitik benak dua dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) UK Petra dengan menggelar pameran hasil penelitian yang masih berjalan bertajuk “Nek Aku Bonek, Koen Kate Lapo?” di Perpustakaan UK Petra pada tanggal 6-16 Juni 2017 yang lalu.

Pameran ini menampilkan data awal penelitian Obed Bima Wicandra, S.Sn., M.A. dan Anang Tri Wahyudi, S.Sn., M.Sn. “Pameran ini memang masih belum selesai. Kami ingin memamerkan data awal penelitian sekaligus menjaring pandangan tentang bonek dari pengunjung. Interaksi ini diharapkan akan menjadi masukan bagi peneliti. Kami juga mengundang bonek untuk bisa saling berbagi dengan kami setelah melihat data-data yang kami kumpulkan”, urai Obed Bima Wicandra, S.Sn., M.A yang juga sebagai Seketaris Program Studi DKV UK Petra. Penelitian mereka mengangkat mengenai street art yang marak dibuat oleh Bonek sebagai bentuk perlawanan atas PSSI yang melarang Persebaya berkompetisi di Liga Indonesia. Rentang waktu pengambilan data berupa foto dokumentasi dan kliping pemberitaan tentang aksi para Bonek ini adalah antara bulan Oktober 2016 sampai dengan Januari 2017. Perlu dicatat, bahwa pada masa-masa tersebut aksi perlawanan Bonek sedang mendaki menuju titik kulminasi yang ditandai dengan pernyataan dari PSSI yang mencabut larangan bertanding bagi Persebaya di bulan Januari 2017.

Nuansa hijau yang sebagai ciri khas dari Bonek tampak menonjol di gallery pameran. Para pengunjung perpustakaan akan secara otomatis melihat deretan display pameran yang dihiasi berbagai merchandise Persebaya. Dinding display pameran dihiasi lebih dari seratus foto dokumentasi yang diambil saat aksi para Bonek berlangsung. Foto-foto ini menunjukkan ragam media dan street art yang dibuat, yaitu: spanduk sederhana dari kain putih dan tulisan ala kadarnya; konvoi sepeda motor yang menampakkan orang-orang memakai jersey hijau kebanggaan Persebaya; aksi demo di berbagai ruang terbuka publik; dan masih banyak lainnya. Selain foto dokumentasi dan atribut-atribut pendukung Persebaya, dinding display ini juga menampilkan kliping-kliping koran yang memuat artikel momen-momen penting yang dijalani Bonek dan Persebaya. Misalnya seperti: pencabutan larangan oleh PSSI; pembenahan image Bonek yang mulanya terkenal tidak mau membeli tiket menjadi tertib dengan jargon “No ticket, no game”; dan tanding tandang yang lebih terkoordinir.

Penelitian yang ditampilkan dalam pameran ini diawali dengan keunikan perlawanan Bonek dibandingkan pendukung klub lain yang juga mendapat larangan PSSI. Agar lebih menghasilkan data yang akurat, Anang dan Obed turut dalam aksi Bonek untuk merekam aktivitas dan pola seni jalanan yang dihadirkan Bonek. Kedua dosen yang juga aktivis seni jalanan ini melihat bahwa pola street art yang dipakai Bonek dalam komunikasi perlawanan mereka tidak mengacu pada pola mainstream dari street art yang ada saat ini. Dimana street art mainstream cenderung menunjukkan sisi artistik dan dasar dari seni rupa yang terlihat dari adanya komposisi, kesatuan dan keseimbangan yang menampilkan estetika. Sedangkan di street art Bonek, pola tersebut tidak ada, dan cenderung anti estetika. Pola yang muncul cenderung vernacular atau asal-asalan, spontan dan apa adanya. Pola yang apa adanya ini terlihat dari media spanduk yang sering mereka pakai yang hanya dibuat dengan cat semprot diatas kain putih. Seni jalanan bonek yang apa adanya ini memberikan kesan kejujuran dan perlawanan. Hal ini sesuai dengan nama Bonek yang merupakan singkatan dari Bondo Nekat yang berarti Bermodal Nekat. Meskipun hanya bermodal nekat, bisa dilihat bahwa pada bulan puncak perlawanan mereka Surabaya telah diwarnai secara masif dengan street art khas Bonek. Seperti kata Obed, “Kini transformasi Bonek bukan hanya ‘bondo nekat’ tetapi juga’Bondo Nekat dan Kreatif’”. (noel/Aj)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here