SHARE

Bahasa dan kebudayaan adalah dua aspek yang tidak terpisahkan. Dalam mempelajari suatu bahasa, budaya akan memperkaya pemahaman atas bahasa tersebut. Bahasa itu sendiri juga adalah penggambaran suatu kebudayaan. Seperti kata psikiater budayawan Frantz Fanon, “To speak a language is to take on a world, a culture”. King Sejong Institute (KSI) sebagai penyedia pendidikan Bahasa Korea juga memperkaya pembelajaran bahasa yang diberikannya dengan meningkatkan pengenalan atas budaya Korea. Salah satu cara efektif untuk memperkenalkan suatu budaya adalah melalui menonton film. Pada tanggal 15 September 2017, KSI Surabaya mengadakan acara menonton film Korea bersama dalam gelaran Korean Movie Day.

Hadir dalam acara ini Dr. Dra. Liliek Soelistyo, MA., Direktur KSI Surabaya. Dalam sambutannya, Liliek mengangkat bahwa Korean Movie Day ini dilaksanakan dua kali setiap tahunnya. Sejak KSI Surabaya dibuka pada tahun 2015, sudah 4 kali acara ini diadakan. Ia pun mengumumkan bahwa dengan terbukanya berbagai kerjasama baru di Surabaya, gelaran Korean Movie Day selanjutnya mudah-mudahan akan dilaksanakan di CGV Cinema di Marvell City Mall Surabaya. Berita ini disambut dengan hangat oleh sekitar 180 hadirin yang memenuhi Ruangan AVT 502 Gedung T U.K. Petra tempat acara ini diselenggarakan.

Di kesempatan kali ini, film yang ditonton bersama berjudul Amsal (Judul Inggris: Assassination). Assassination dalah sebuah film tentang sejarah perjuangan Korea di saat Korea berada dibawah kekuasaan Jepang pada tahun 1933. Film bergenre drama action ini dilakoni oleh wajah-wajah yang sudah tak asing bagi penggemar film Korea. Jun Ji-hyun, pemeran utama wanita yang berperan sebagai An Ok-yun sudah akrab di mata penggemar film televisi Legend of the Blue Sea (2017), dan My Love from the Stars (2015). Oh Dal-su, pemeran pendukung pria sudah dua kali ditampilkan dalam acara Korean Movie Day KSI, film sebelumnya adalah Ode to My Father. Assassination mengisahkan sepak terjang sekelompok pejuang Korea yang dibentuk oleh Kapten Yem, seorang aktivis gerakan anti penjajahan Jepang di Korea. Kelompok beranggotakan tiga orang ini dipimpin oleh sang protagonis, seorang gadis ahli menembak runduk (sniper) bernama An Ok-yun. Ketiga pejuang ini diberi misi oleh Kapten Yem untuk membunuh Kang In-guk, seorang usahawan Korea yang mengkhianati bangsanya dan membantu Jepang menjajah Korea. Dalam proses persiapan misi, mereka berjumpa dengan Hawaii Gun, seorang pembunuh bayaran berkebangsaan Korea yang ditugasi Jepang untuk menggagalkan misi mereka. Hawaii Gun tidak melaksanakan tugasnya karena simpati pada rekan sebangsanya. Di sini muncul intrik dimana sebelum mereka melancarkan serangan pun, misi rahasia mereka sudah terendus oleh pemerintah Jepang. Lebih mengejutkan lagi ketika kelompok pejuang kita mendapati kenyataan dimana An Ok-yun adalah anak kandung dari Kang In-guk, sasaran mereka. Drama semakin memuncak ketika jalan cerita berbelok dan tokoh antagonis utama yang tidak diduga-duga dimunculkan. Intrik dan drama yang sedih dalam film ini diselingi komedi dengan porsi yang baik dan di saat yang tepat sehingga memberi kesegaran dan tidak mengganggu pesan serius yang ada di dalamnya.

Dari menonton film ini kebudayaan Korea bisa diserap melalui pengenalan atas sejarahnya. Kita akan tahu bahwa sebelum perang dunia kedua (sejak 1910), Korea berada di bawah kekuasaan Jepang. Terlihat di film ini bahwa bangsa Korea, walaupun di bawah tekanan Jepang, tetap bisa menjaga kebudayaannya terlihat dari adegan gadis-gadis memakai hanbok berdansa dengan iringan musik shuffle khas tahun 1930-an. Meskipun dibalut ironi, sentimen patriotisme Korea di bawah penjajahan nampak dalam adegan-adegan tokoh Hawaii Gun dimana ia harus menahan kegeraman dan tidak langsung bereaksi ketika melihat orang Korea diperlakukan semena-mena oleh tentara Jepang. Sentimen ini dirasakan oleh para penonton, seperti yang dikatakan oleh Jourdan, mahasiswa Manajemen Perhotelan angkatan 2016 yang hadir menonton. Mengenai menjaga loyalitas pada negara ia mengatakan, “Kita tidak boleh mengkhianati negara kita sendiri”. (noel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here