SHARE

Setengah dari penduduk Indonesia adalah perempuan. Sebagai negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia, adalah miris kalau kita menengok pada kenyataan bahwa setengah populasi ini mengalami ketidakadilan. Universitas Kristen Petra yang mengusung visi To be a Global and Caring University with Commitment to Christian Values berperan serta dalam mengkaji permasalahan ini melalui diadakannya Seminar Kesetaraan Gender dengan tajuk “Feminisme dan Generasi Muda”. Seminar yang dilaksanakan di Ruang AVT 503, Gedung T U.K. Petra ini diprakarsai oleh Kelompok Kerja  Kemitraan GKI, dan melibatkan beberapa universitas lain yang ada di Surabaya. Narasumber tunggal dalam seminar yang dihadiri sekitar 60 orang ini adalah Dr. Gadis Arivia Effendi, S.S.

Gadis adalah seorang dosen pengajar di Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang juga Direktur Yayasan Jurnal Perempuan Indonesia. Ia secara aktif bergerak meningkatkan kesetaraan gender. Sesi yang dibawakannya diberi judul “Feminisme dan Generasi Muda”. Membuka sesinya ia mengangkat kutipan dari bell hooks (penulisan nama dengan huruf kecil adalah atas permintaan ybs. untuk menggambarkan kesetaraan), seorang aktivis feminisme, yang berbunyi “Feminisme adalah sebuah pergerakan untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi dan penindasan”. Gadis kemudian mengelaborasi bahwa feminisme adalah gerakan yang mendukung kesetaraan gender, di mana saat ini perempuan mengalami ketidakadilan di berbagai aspek kehidupan. Ilustrasi atas ketidakadilan ini bisa dilihat dari beberapa data yang disajikan Gadis. Pertama, adanya kesenjangan di angka tingkat partisipasi kerja yaitu: 84.4% untuk laki-laki dan 50.3% untuk perempuan. Selanjutnya, hanya 36,2% perempuan berstatus menikah (usia 15-49 tahun) yang memiliki tanah, dengan perbandingan 54.1% untuk laki-laki. Gadis menambahkan lagi, menurut laporan Global Gender Gap di tahun 2014  Indonesia menduduki peringkat ke-95 dari 125 negara dalam hal partisipasi wanita di ruang publik (seperti memegang jabatan publik).

Dari gambaran yang diberikan, Gadis kemudian memaparkan pandangannya tentang feminisme di Indonesia. Saat ini persepsi masyarakat atas feminisme cenderung tidak mengarah pada perlawanan terhadap ketidakadilan, akan tetapi seringkali feminisme dihubungkan dengan moralitas negatif dari perempuan. Persepsi ini dilatarbelakangi oleh kuatnya budaya patriarki di masyarakat. Saking kuatnya budaya ini, bahkan masih banyak wanita yang bersikap seksis terhadap wanita sendiri. Dan juga ditemukan salah kaprah yang mengartikan feminisme sebagai gerakan anti laki-laki. Perlu diluruskan bahwa kesetaraan bagi wanita bukanlah berarti anti laki-laki. Menurut Gadis, langkah untuk mencapai kesetaraan ini adalah melalui pengubahan mindset yang bisa dimulai dari muda. Penanaman pola pikir kritis yang mempertanyakan kembali segala dogma yang menjadi akar ketidaksetaraan. Dengan adanya kesadaran yang kritis, maka semua orang baik laki-laki maupun perempuan akan mampu menerima ide bahwa kesetaraan tidak akan merugikan laki-laki dan juga para perempuan yang masih terkungkung dalam pola pikir patriarkis akan bisa teremansipasi dari seksisme terhadap perempuan. Usaha untuk menata ulang pikianr ini menurut Gadis bukanlah hal yang instan dan merupakan proses dengan perjuangan. Mengilustrasikannya, Gadis kembali mengutip bell hooks “Feminisme tidak dilahirkan tetapi diciptakan”. (noel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here