Site Visit Bangunan Kolonial di Surabaya

0

Universitas Kristen Petra (UK Petra) terus membuka diri dengan menjalin kerja sama internasional dengan universitas dari negeri jiran, Malaysia. Salah satunya dengan kerjasama internasional bertajuk Joint Internasional Architecture and Urbanism 2016 selama dua hari berturut – turut mulai hari Jumat-Sabtu, 20-21 Mei 2016 yang lalu. Sejumlah 52 mahasiswa Arsitektur dan dosen dari Univeristi Tunku Abdul Rahman, Kuala Lumpur-Malaysia (UTAR) hadir untuk site visit bangunan kolonial di Surabaya. Para mahasiswa UTAR ini menyelesaikan mata kuliah studi lapangan, dimana mereka melihat sendiri di lapangan penerapan arsitektur dalam bangunan-bangunan yang ada ditemani oleh  39 mahasiswa Arsitektur S1 Universitas Kristen Petra.

Sebelum melakukan Site Visit, para mahasiswa UK Petra maupun UTAR ini mendapatkan pembekalan terlebih dahulu oleh Timoticin Kwanda, B.Sc. MRP, Ph.D mengenai Colonial Architecture. Workshop yang mengambil tema Colonial Architecture in Surabaya: Heritage and Conservation tersebut terdiri dari Kunjungan Lapangan (Site Visit) dan Presentasi. Untuk Site Visit (20/05), para mahasiswa dibentuk dalam kelompok selama sehari akan mengunjungi bangunan-bangunan kolonial bersejarah di Surabaya seperti arsitektur kolonial yaitu House of Sampoerna, Grahadi dan De Javasche Bank serta pusat kota lama Surabaya yaitu Taman Jayengrono. Dalam kunjungan ke House of Sampoerna, para peserta melihat ciri khas arsitektur yang sering menggunakan aksara Cina yaitu huruf Wang yang berarti raja, dan huruf Lim yang adalah nama marga dari pendiri Sampoerna, Lim Seeng Tee. Dari penggunaan bentuk huruf ini dalam arsitektur, para peserta juga mempelajari filosofi dibaliknya yang akhirnya menginspirasi desain pada arsitektur gedung.

“Mereka akan melakukan pendekatan tiga langkah yaitu mengindentifikasi material, bentuk hingga ruang yang berkontribusi pada karakter visual dari bangunan. Awalnya mereka akan mengamati bangunan dari kejauhan untuk memahami konteks dan latar secara keseluruhan. Kemudian mendekat pada bangunan untuk menghargai material dan teknologi serta finishing permukaan bangunan. Setelah itu para mahasiswa ini masuk ke dalam bangunan untuk mendalami ruang yang membentuk karakter visual interior bangunan”, urai Eunike Kristi Julistiono, S.T., M.Des.Sc. selaku Kepala Program Studi Arsitektur UK Petra, Surabaya.

Keesokan harinya, Sabtu tanggal 21 Mei 2016 mulai pukul 09.30-10.30 WIB di Ruang Konferensi IV, gedung Radius Prawiro lantai 10 kampus UK Petra para mahasiswa yang sudah terbagi dalam kelompok tersebut diminta mempresentasikan hasil yang didapatkan untuk berdiskusi bersama mengenai aspek-aspek visual dan fisik yang membentuk tampilan bangunan-bangunan bersejarah tersebut. Lim Teck Yao salah seorang mahasiswa peserta workshop dari Malaysia, sangat senang dapat mengikuti kesempatan ini sebab ia dapat mendapatkan ide untuk karyanya. Menurutnya lebih jauh, dunia arsitektur di Malaysia masih memiliki peluang yang sangat besar. “The number of government certified architects in Malaysia is so little, the government give strict regulation and testing for architectural professions”. Perkataannya didukung oleh statistik dari situs Lembaga Arkitek Nasional, otoritas pemerintah Malaysia yang meregulasi dunia arsitektur. Dengan adanya kegiatan ini maka para mahasiswa arsitek tersebut mendapatkan pengalaman secara langsung melihat dan mengidentifikasikan prinsip arsitektur yang khas dari era kolonial Surabaya sehingga dapat mengimplementasikan rasa, selera dan fungsi arsitektur yang baru. (Noel/adp)

Share.