Kunjungan Pejabat Kopertis VII ke UK Petra

0

Kopertis VII adalah lembaga yang menjembatani komunikasi antara Kementerian Riset dan Teknologi dengan Perguruan Tinggi Swasta yang ada di wilayah Jawa Timur. Diwakili oleh Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA sebagai Koordinator, Kopertis mengunjungi Universitas Kristen Petra pada tanggal 29 Maret 2016. Hadir menemani Suprapto adalah Prof. Dr. Ali Maksum, Sekretaris Pelaksana Kopertis VII, dan Drs. Ec. Purwo Bekti, M.Si. Kepala Bidang Kelembagaan dan Sistem Informasi Kopertis VII. Rombongan pejabat Kopertis VII ini disambut oleh Prof. Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng., Rektor UK Petra, beserta seluruh pimpinan UK petra, yaitu: Wakil Rektor 1, 2 dan 3, beserta semua Dekan, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan juga Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat. Pertemuan antara Kopertis VII dan UK Petra ini dilaksanakan di Ruang Rapat Utama, Gedung Radius Prawiro lantai 9 UK Petra.

Suprapto mengatakan bahwa hubungan antara UK Petra dan Kopertis VII adalah suatu kemesraan. Menurutnya, “Tugas pokok fungsi Kopertis adalah pembinaan, pengendalian dan pengawasan. Kunjungan kali ini adalah untuk melakukan tupoksi (tugas pokok fungsi) kami tersebut dan tetap menjalin kemesraan”. Diantara 332 perguruan tinggi swasta yang berada dalam koordinasi Kopertis VII, UK Petra adalah PTS yang dapat dibanggakan. Hal ini dikarenakan UK Petra adalah perguruan tinggi yang leading. Akan tetapi, meskipun UK Petra sudah bisa mandiri, Kopertis tetap harus melakukan tupoksinya. Harapannya adalah tradisi kualitas unggul UK Petra dapat ditularkan pada PTS anggota Kopertis VII yang lain dan akan bisa terus berkembang sampai dengan ratusan tahun seperti perguruan tinggi swasta di luar negeri.

Ali Maksum, sebagai sekretaris pelaksana Kopertis mengemukakan penghargaan yang sama atas kualitas UK Petra, dan ia memaparkan secara lebih spesifik apa yang ingin didapatkan dari sharing ini. Ia mengatakan, “Kami ingin melihat dari dekat praktek penyelenggaraan akademik, dan kegiatan yang bersifat best practice sehingga bisa ditularkan pada manajemen di PTS yang lain”. Kopertis juga menghendaki untuk melihat infrastruktur akademik UK Petra. Menurutnya “Sekali pun UK Petra sudah berstandar tinggi, Kopertis pasti bisa memberikan masukan di titik-titik tertentu”.

Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan presentasi oleh Rektor UK Petra. Presentasi ini memberikan perkenalan atas UK Petra. Menjawab permintaan dari Ali Maksum terkait dengan best practice yang dijalankan di UK Petra, salah satu best practice di UK petra bisa dilihat di rencana strategis. Dimana renstra (rencana strategis) ini bukan hanya dibuat dan kemudian disimpan di lemari, akan tetapi di UK Petra renstra benar-benar dilaksanakan. Implementasinya adalah renstra universitas yang memiliki target institusi  didistribusikan menjadi target fakultas, yang kemudian didistribusikan lagi menjadi target program studi, dan kemudian didistribusikan lagi menjadi target individu dosen. Dari target-target ini setiap tahun akan di-review, masing-masing bagian akan memberikan pertanggungjawaban. Menurut Rektor, “Penetapan target ini adalah top-down, sedangkan pencapaiannya adalah bottom-up“.

Di kesempatan ini, para pimpinan UK Petra menyampaikan aspirasi kepada Kopertis dengan harapan untuk bisa meningkatkan pendidikan di PTS Jawa Timur dan UK petra secara khususnya. PTS adalah institusi pendidikan yang seharusnya mendapatkan insentif pajak untuk membantu berkembang. Selain itu, dikemukakan bahwa untuk dosen luar biasa di PTS, yang rata-rata adalah professional yang waktunya sangat terbatas, kesulitan untuk mendapatkan nomor urut pendidik (NUP) karena salah satu persyaratannya adalah surat keterangan sehat yang memakan waktu lama untuk mengadakannya. Secara khusus UK Petra menyampaikan beberapa hal, salah satunya yaitu sukarnya perizinan untuk mahasiswa asing yang berkuliah selama lebih dari 2 tahun.

Sebagai penutup pertemuan, Rektor UK Petra mengucapkan terima kasih kepada Kopertis. Ia juga mengungkapkan harapan bahwa hubungan yang baik antara UK Petra dan Kopertis akan bisa mengembangkan kedua belah pihak. Ujarnya, “Kunci suksesnya sebuah institusi atau organisasi adalah keterbukaan”. Apabila UK Petra bekerja secara sendirian, maka akan ada beberapa hal yang tidak terlihat. Dengan adanya masukan dari Kopertis, maka akan bisa dilakukan pengembangan di daerah-daerah yang sebelumnya tidak terlihat (noel/fsc)

Share.