SHARE

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia adalah kota yang kaya akan warisan sejarah. Kekayaan sejarah kota ini bisa dilihat dari keindahan gedung-gedung kunonya yang bersejarah. Program Studi Desain Interior Universitas Kristen  Petra (UK Petra)  melalui tugas mata kuliah Presentasi Visual 2 (PV2) mengajak para mahasiswa untuk mengeksplorasi gedung-gedung bersejarah ini dan meningkatkan kemampuan penyajian visual melalui kegiatan mempresentasikan sisi tua kota Surabaya.

Kegiatan tugas “Presenting Surabaya: Old City” dilaksanakan sejak awal semester genap 2016-2017. Mahasiswa peserta PV2 yang berjumlah 140 orang dibagi dalam kelompok-kelompok, di mana per kelompok berisi 10-11 orang. Kelompok-kelompok ini kemudian ditugaskan untuk melakukan pencarian arsip dan penelitian sejarah bangunan-bangunan cagar budaya Surabaya, seperti: Wisma Wismilak; House of Sampoerna; Klenteng Boen Bio Kapasan; Rumah Abu Han; Bank Mandiri Jalan Pahlawan; Perpustakaan Bank Indonesia dan Museum Bank Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk membekali mahasiswa yang akan melakukan penelusuran lapangan dengan landasan pengetahuan tentang sejarah dan gaya desain bangunan yang akan dikunjungi.
Setelah penelitian arsip, para mahasiswa mengunjungi bangunan-bangunan tersebut. Dalam kunjungan ini mereka ditugaskan membuat sketsa perspektif dan rekam detail dari bangunan tersebut. Sketsa perspektif ini dilakukan secara manual dengan tangan dan rekam detail dilakukan dengan membuat visual note. Hasil dari sketsa dan visual note yang didapatkan adalah bahan yang akan diolah untuk kemudian dijadikan suatu presentasi visual.
Puncak dari tugas ini adalah pameran Presenting Surabaya: Old City yang dilaksanakan pada tanggal 6 – 10 Maret 2017. Dalam pameran ini disajikan papan informasi tentang gedung dan ruang dalam yang dianggap menarik, visual note rekam data literatur, sketsa di lapangan dan gambar perspektif. Dari pemaparan ini bisa dilihat bagaimana mahasiswa mengidentifikasi gaya desain masing-masing gedung: Wisma Wismilak, House of Sampoerna, Bank Mandiri Jalan Pahlawan, Perpustakaan Bank Indonesia dan Museum Bank Indonesia didesain dengan gaya kolonial Belanda, sedangkan Klenteng Boen Bio Kapasan dan Rumah Abu Han dibangun dengan pengaruh gaya desain Cina dan kolonial Belanda. Gaya desain Cina diidentifikasikan dengan ornamen-ornamen budaya Cina seperti naga, aksara dalam bahasa Cina, serta desain yang mengangkat pentingnya keseimbangan antara simbol-simbol elemen (api, air, kayu, dan sebagainya.) Sedangkan gaya desain kolonial belanda dicirikan dengan ventilasi yang melimpah, jarak lantai dan atap yang tinggi, dan pilar-pilar kolonial.

Dengan rangkaian kegiatan tugas ini, mahasiswa diajak memahami melalui gaya desain bahwa Surabaya dibagi dalam beberapa area di masa lampau. Mahasiswa juga diajak memahami bagaimana pengaruh desain tersebut terhadap dinamika sosial ekonomi. Pemahaman ini akan membantu mahasiswa belajar pada tahap awal mengenai kaitan keilmuan desain terhadap manusia. Menurut Fanny, seorang mahasiswa dari kelompok yang berkunjung ke Perpustakaan Bank Indonesia, “Dengan tugas ini kami belajar rendering bayangan dan pencahayaan”. Audrey, mahasiswa PV2 yang lain mengungkapkan kesannya mengenai tugas ini, katanya: “Saya belajar membedakan langgam (style)  yang ada pada bangunan kuno kita”. Sejurus dengan kesan-kesan mahasiswa, Dr. Ir. Lintu Tulistyantoro, M.Ds., salah seorang dosen koordinator studio PV2 mengatakan: “Surabaya memiliki potensi sejarah di sisi lain UK Petra  memiliki potensi mahasiswa yang akademis dan tugas ini memancing mahasiswa untuk melihat secara akademis bagaimana mereka mengapresiasi sejarah dalam sebuah presentasi gambar”. (noel/dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here