SHARE

Pusat Karir Universitas Kristen Petra (UK Petra) menyelenggarakan Career Camp 2017 yang diadakan di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 6-8 Februari 2017. Keberhasilan program Career Camp yang diadakan setiap dua tahun sekali sejak tahun 2009 dan antusiasme minat calon peserta yang tinggi menjadi latar belakang terselenggaranya kegiatan ini. Sebanyak 39 mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra) dan delapan mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya tergabung menjadi peserta Career Camp yang telah berjalan selama lima kali ini.
Saat ini, generasi muda memiliki minat besar untuk membuka bisnis sendiri, namun bisnis tersebut diharapkan dapat memberikan inspirasi untuk memberikan kontribusi sosial. Oleh sebab itu, tahun ini Pusat Karir mengadakan Career Camp dengan tema baru, “Your Business, Your Contribution to The Nation”. Segala materi pelatihannya lebih menitikberatkan pada hal-hal yang berkaitan dengan mengembangkan bisnis yang memberikan dampak sosial terhadap masyarakat. Peserta diharapkan dapat memperoleh pelatihan kewirausahaan di bidang sosial yang tidak mereka dapatkan dalam kelas akademik.

Melalui Career Camp 2017, peserta belajar manajemen bisnis sosial, tantangan dan rintangan dari sociopreneur yang sudah terlebih dahulu bergelut di bidang tersebut. “Materi-materi yang berkaitan dengan tujuan utama Career Camp kali ini antara lain general overview of being sociopreneur, menangkap masalah dan kebutuhan masyarakat, perencanaan keuangan bisnis sosial, kerja tim, manajemen program kreatif, seni berjejaring, dan teknik mempresentasikan ide atau program,” urai Jessie Monika., S.S. selaku ketua panitia Career Camp 2017. Materi ini disampaikan oleh komunitas sociopreneur yang dikunjungi peserta selama di Bandung.

Kali ini, Pusat Karir UK Petra menggandeng lima komunitas atau lembaga sosial yakni Rumah Cemara (Komunitas Rehabilitasi Narkoba), Komunitas Hong (Pusat Kajian Mainan dan Permainan Tradisional Indonesia), Bandung Creative City Forum (Pengembangan Bandung sebagai kota kreatif), Greenaration Foundation (Gerakan global untuk isu lingkungan), dan Kedai Preanger (Komunitas Pecinta Heritage). Selain itu, Pusat Karir UK Petra mendatangkan Veronica Colondam, pendiri Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Bandung.

Hari pertama (6/2) mahasiswa mendapat sesi pembekalan materi tentang On being sociopreneur oleh Veronica Colondam dari Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Bandung. Yayasan ini berdiri sejak tahun 1999 dan bergerak di bidang penanganan bahaya narkoba yang dilakukan anak-anak kaum marjinal. “Mendirikan perusahaan dengan visi sosial harus berfondasi kuat. Konsep dan visi sosialnya harus pasti mau seperti apa. Kami menyediakan keterampilan dan pelatihan bagi anak-anak seperti menjahit, komputer, elektronik dan salon,” urai Veronica Colondam.

Setelah sesi usai, masing-masing kelompok yang terdiri atas 8–9 orang diberi uang saku sebesar 1,4 juta untuk biaya hidup di Bandung selama empat hari tiga malam. “Uang tersebut harus cukup untuk hidup para anggota kelompok. Mereka harus bisa mengatur  biaya makan dan transportasi,” ujar Lisa Narwastu, Kepala Pusat Karir UK Petra. Setelah itu, para peserta dituntut untuk pergi ke Komunitas Hong tanpa panduan panitia, artinya para peserta dituntut bekerja dalam kelompok untuk sampai pada tujuan dengan menggunakan uang dari panitia. Peserta pun menggunakan angkutan umum atau taksi online sebagai alat transportasi. Di Komunitas Hong terdapat 2.000 jenis permainan tradisional seperti permainan keris-kerisan dari bilah bambu, kelom bambu, dan sepeda kayu. Komunitas tersebut memiliki cabang di dua tempat lain yakni Aceh dan Mojokerto.
Setelah Komunitas Hong, para peserta berkunjung ke Rumah Cemara. Rumah Cemara adalah organisasi berbasis komunitas yang menggandeng para pecandu narkoba, mantan pecandu, dan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) untuk mengembangkan potensi diri. Organisasi ini merawat dan memberdayakan mereka, salah satunya dengan cara menyediakan fasilitas penunjang hobi seperti olahraga yang dikembangkan adalah tinju.

Di hari kedua (7/2), peserta diajak mengunjungi Bandung Creative City Forum untuk mendapatkan gambaran tentang bisnis kreatif. Salah seorang pendiri BCCF Tita Larasati menyampaikan tentang cara menangkap masalah dan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, Ketua Karang Taruna se-Bandung Fiki Satari berbagi pengetahuan tentang creative program management. Terakhir, peserta mengunjungi Kedai Preanger yang merupakan tempat nongkrong Komunitas “Aleut”. “Aleut” dalam bahasa Sunda berarti sekelompok orang yang berjalan beriringan sebagaimana para petani beramai-ramai melintasi jalan setapak. Aleut bereksperimen dengan memahami situs sejarah serta melakukan uji coba berdasar ilmu fisika dan kimia untuk mengetahui fenomena sejarah (fsc/dit).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here