SHARE

Bahasa adalah kunci untuk membuka jendela dunia. Dengan menguasai suatu bahasa, maka akan terbuka sudut pandang baru akan dunia. Ethnologue, majalah linguistik tahunan internasional edisi tahun 2017 menempatkan Bahasa Mandarin sebagai bahasa yang paling banyak dipakai saat ini, diperkirakan hampir 900 juta orang memakai bahasa Mandarin sebagai bahasa ibu. Sebagai pembanding, bahasa Inggris menempati posisi kedua dengan jumlah pemakai sekitar 400 juta orang sedangkan Bahasa Indonesia berada di peringkat keenam dengan pemakai hampir 80 juta orang. Dari data di atas, kita bisa melihat bahwa bahasa Mandarin adalah salah satu bahasa yang penting untuk dipelajari.

Dalam usaha mengembangkan pemahaman bahasa dan budaya Mandarin, Program Studi (prodi) Sastra Tionghoa Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengambil peran dalam menyelenggarakan dan pengembangan pendidikan bahasa Mandarin di Indonesia.

Pada tanggal 13-15 Juli 2017 diselenggarakan Musyawarah Nasional (munas) Kedua dan Seminar Nasional Asosiasi Program Studi Mandarin Indonesia (APSMI) di UK Petra. Gelaran nasional ini mengangkat tajuk “Penguatan Peran Bahasa Mandarin dalam rangka Hubungan Diplomatik 66 Tahun Indonesia – Tiongkok”.

Membuka rangkaian acara, Ketua Panitia Munas Kedua, Elisa Christiana, B.A., M.A., M.Pd memberikan sambutan dengan mengatakan bahwa Indonesia baru saja membuka diri kembali untuk pengembangan pendidikan Bahasa Mandarin, Ia kemudian meneruskan bahwa manfaat pendidikan bahasa Mandarin bisa didapat dalam membina hubungan diplomatik dan menunjang pembelajaran ilmu pengetahuan.

Wakil Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan, Agus Arianto Toly, S.E. ,Ak., M.S.A. menyampaikan bahwa ada tantangan yang dihadapi instansi pendidikan khususnya Sastra Tionghoa yaitu kecilnya market demand dimana Bahasa Mandarin dibutuhkan, akan tetapi orang masih memilih untuk belajar bahasa Mandarin di Tiongkok. Agus Toly mengharapkan dengan adanya Munas ini, maka akan muncul kebijakan-kebijakan yang membantu pengembangan pendidikan Sastra Tionghoa di Indonesia. Selanjutnya adalah sambutan dari Wakil Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia, Liu Qiang. Menurut Liu momen ini adalah tepat untuk merayakan persahabatan Indonesia dan Tiongkok yang memiliki sejarah sejak 200 tahun yang lalu. Ia juga menambahkan informasi bahwa pada saat ini ada 14 ribu mahasiswa Indonesia yang berkuliah di RRT, dan 500 orang mahasiswa dari RRT berkuliah di Indonesia.

Sambutan terakhir dalam pembukaan seminar nasional ini diberikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk RRT, Soegeng Rahardjo. Soegeng mengapresiasi kegiatan dan kontribusi dari APSMI dalam meningkatkan pendidikan bahasa Mandarin yang kemudian juga meningkatkan persahabatan RI – RRT, menurutnya bahasa merupakan salah satu kunci mempererat hubungan dua negara. Soegeng juga menambahkan perekonomian global di kedepan akan  didominasi oleh negara-negara Timur Jauh seperti RRT, dan Indonesia. Ia juga mengungkapkan bahwa dengan adanya Belt & Road Initiative yang sudah mulai dijalankan RRT, interaksi RRT dengan Indonesia dalam perdagangan dan kerjasama akan meningkat. Menutup sambutannya, Soegeng menggarisbawahi budaya Guan Xi dari RRT, yaitu tradisi kerjasama dan pembinaan hubungan Tiongkok  yang diserap oleh bangsa Indonesia dalam istilah ‘kongsi’.

Adapun agenda yang ada dalam rangkaian acara ini mencakup: Seminar Bahasa Mandarin, Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah, Pelatihan Jurnal Online dan Konferensi APSMI. Hasil dari konferensi kali ini adalah kesepakatan nomenklatur penamaan program studi dan kesepakatan profil lulusan beserta capaian pembelajaran Program Studi Mandarin, dimana untuk Prodi Sastra Tionghoa UK Petra, diusulkan menjadi Bahasa Tionghoa dengan kualifikasi lulusan Sarjana Linguistik. (noel/dit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here