SHARE

Kehidupan di negara dengan masyarakat yang majemuk tentu membuat orang kerap berinteraksi dengan sesama yang berasal dari etnis dan latar belakang budaya yang berbeda. Interaksi-interaksi yang ada tidaklah selalu berjalan dengan mulus, kadang malah menimbulkan friksi dan prasangka. Itulah yang diangkat dalam “The Neighbor” pementasan teater yang digarap oleh para mahasiswa Program Studi Sastra Inggris dan Fakultas Sastra Universitas Kristen Petra (UK Petra). Pementasan saat itu berlangsung selama empat hari berturut-turut mulai tanggal 27-30 Agustus 2017 yang lalu mulai pukul 16.00-17.00 WIB di Petra Little Theatre Gedung B lantai 2 kampus UK Petra Surabaya.

Pementasan teater yang berdurasi 60 menit ini mengangkat isu mengenai hubungan antar tetangga sebagai bagian dari masyarakat yang majemuk. Karya apik ini ditulis oleh pemudi Indonesia bernama Ivonne M. Harsono saat mengambil kelas Playwriting program Magister Sastra UK Petra. “Ketika orang berhadapan dengan seorang tetangga baru dengan latar belakang budaya dan etnis yang berbeda, terkadang orang mudah tergelincir ke dalam prasangka negatif terhadapnya. Ditambah pada kenyataannya kondisi dunia belakangan saat ini semakin mempermasalahkan perbedaan di antara kelompok masyarakat dan lebih berani menunjukkan sikap diskriminatif terhadap sesamanya misalnya saat pemilu di Amerika, imigrasi di Eropa, bahkan isu SARA yang berkembang di Indonesia. Itulah mengapa saya terpikir membuat cerita ini,” ungkap Ivonne.

Cerita yang mengambil latar belakang lokasi di New York City setahun setelah pengeboman WTC 11 September 2001 ini melibatkan enam pemain dari para mahasiswa program English for Creative Industry (ECI) dan Sastra Inggris mulai angkatan 2013 hingga angkatan 2015. Kisah diawali dengan Frank (tokoh utama), seorang generasi kedua imigran di Amerika yang merasa Amerika dirusak oleh orang-orang jahat khususnya mereka yang sebangsa dengan para pelaku pengeboman. Ia menjadi tak suka dengan para muslim dan orang-orang pendatang lainnya. Konflik dimulai saat temannya memperkenalkan tetangga baru yang tinggal di apartemen gedung seberang, yang adalah seorang pria muslim Libanon bernama Rashid. Prasangka dan stereotip mulai terbentuk di benak Frank tentang Rashid. Ketika ada kasus pembunuhan di daerah tersebut, Frank merasa yakin bahwa Rashid adalah pelakunya, berdasarkan beberapa hal mencurigakan yang diamati Frank. Frank kemudian melaporkannya ke Polisi Tapi apakah benar ia pembunuhnya?

“Semoga dengan hadirnya cerita ini maka para penonton akan lebih berhati-hati dan bijaksana menyikapi prasangka buruk antar golongan yang akhirnya dapat mempengaruhi kehidupan satu sama lain,” tutup Ivonne. Tampilan ini mendapatkan apresiasi sangat bagus dari para penonton, mereka menuliskan kesannya pada secarik kertas yang telah disediakan. “Intense, powerful message, a whole package of fun, mystery and drama! Loved the “Amigos” part!” urai Melita, seorang penonton.(Aj/padi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here