SHARE

Inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, itulah hasil karya para mahasiswa Program Studi Arsitektur UK Petra yang mendapatkan hibah dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) beberapa waktu yang lalu. Light Pipe Daur Ulang: Solusi Ekonomis Pencahayaan Alami untuk Pemukiman Padat, itulah judul ide inovasi yang ditawarkan dan berhasil mendapatkan hibah sebesar Rp. 8.500.000,00. Light Pipe ini sudah diterapkan di dua rumah.

Kedua rumah yang telah dipasang alat ini adalah rumah Keluarga Aderahman dan rumah Keluarga Ibu Didi di jalan Siwalankerto Selatan. Apakah Light Pipe itu? Light Pipe merupakan alat yang berguna untuk meneruskan cahaya matahari ke dalam bangunan di lahan yang padat. Ialah Elisabeth Kathryn, Chefania, Samantha Isabela Ongkowijoyo dan Andrew Laksmana yang mengerjakan proyek ini. Mereka memanfaatkan bahan daur ulang yakni kaleng biskuit bekas untuk menyusun alat ini. Beberapa saat setelah pemasangan Light Pipe pada rumah warga, tim sempat melakukan pengukuran intensitas cahaya yang diperoleh. “Hasilnya lumayan. Kalo siang hari tidak perlu menyalakan lampu dan artinya saya bisa menghemat pengeluaran listrik. Biasanya dalam satu bulan saya mengeluarkan uang Rp. 400.000-450.000 untuk biaya listrik kini setelah menggunakan Light Pipe saya cukup mengeluarkan biaya sekitar Rp. 350.000 saja. Jadi saya bisa menghemat uang sekitar Rp. 50.000-Rp 100.000”, urai Ibu Didi sang pemilik rumah.

Kepadatan penduduklah yang kemudian menyebabkan permukiman di kota besar menjadi berhimpitan satu sama lain, terutama pada pemukiman masyarakat ekonomi lemah. Tanpa sadari, rumah tidak dapat memperoleh pencahayaan alami yang memadai karena terbatasnya jendela. “Ruangan menjadi gelap dan tidak sehat akibat minimnya pencahayaan alami sehingga harus menggunakan lampu sepanjang hari. Dengan hadirnya Light Pipe maka konsumsi energi listrik dapat dikurangi serta kenyamanan dan kesehatan penghuni dapat ditingkatkan. Cahaya yang dihasilkan dari light pipe bersifat diffused (tidak langsung) sehingga tidak menambah beban panas dan tidak menyilaukan”, urai Elisabeth selaku ketua pelaksana kegiatan.

Bahan yang digunakan untuk membuat Light Pipe ini sangat mudah didapatkan dan dikerjakan serta murah harganya. Sehingga sangat memungkinkan jika alat ini dibuat dan dipasang secara mandiri oleh warga sekitar. Bahan yang diperlukan untuk membuat sebuah light pipe daur ulang adalah kaleng bekas kemasan biskuit secukupnya (yang disusun vertikal keatas, sesuai jarak plafon dan atap), mangkuk kaca berbentuk setengah bola sebagai receiver matahari, dan kaca yang dilapis oleh stiker buram sebagai diffuser cahaya. Kaleng dipilih karena memiliki sifat metal yang kuat dan tahan lama serta memiliki permukaan dalam yang reflektif sehingga dapat memantulkan cahaya. Perekat antar kaleng menggunakan lem epoxy, sedangkan perekat mangkuk dan kaca menggunakan silicon sealant. Selain itu, alat yang dibutuhkan adalah pemotong tutup kaleng. Jika di kalkulasikan, biaya pembuatannya pun tak lebih dari Rp. 25.000,00. Sehingga penemuan ini sangatlah mudah untuk diaplikasikan pada masyarakat. “Kaleng bekas yang digunakan adalah kaleng standar berdiameter 15 cm dan jumlahnya tergantung dari jarak tinggi antara plafon dengan atapnya. Pada jarak kurang lebih 1 meter cukup menggunakan 7 kaleng bekas saja. Proses perawatannya pun cukup mudah, cukup dengan membersihkan mangkuk kaca dan diffuser cahaya setiap 1 tahun sekali dan memperhatikan kondisi perekatnya saja”, tutup Elisabeth. (Aj/padi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here